Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 September 2021

Tari Kecetan Ngawi

Selain Tari Orek-Orek, Kabupaten Ngawi masih menyimpan banyak tarian untuk menjadi warisan budaya. Salah satunya ialah Tari Kecetan Ngawi yang terkenal sebagai pengiring acara Keduk Beji.

Ritual Keduk Beji merupakan suatu upacara yang digelar setiap Selasa Kliwon atau setelah masa panen lewat sebagai bentuk penghormatan dan ucapan syukur atas berkah yang diberikan Tuhan. Upacara dilakukan di sumber mata air masyarakat Beji, Desa Tawun.

Menariknya, ritual tersebut selalu beriringan dengan Tari Kecetan Ngawi yang mulai langka. Tarian hanya ada ketika Keduk Beji diadakan, sementara pada perayaan lain tidak dipakai, lantaran adanya gerakan memukul dan turun ke sumber mata air.


Sumber : www.duniangawi.com

 

Tari Penthul Melikan

 

Tarian ini ditarikan dengan memakai topeng kayu yang melambangkan watak manusia yang berbeda-beda namun tetap bersatu dalam kerja.

Topeng ini dipengaruhi Jaman Kerajaan Kediri dan masa kini. Iringan gamelan sedikit mendapat pengaruh Reog Ponorogo.
Tari ini digarap atau diciptakan pada tahun 1952 oleh Bapak Munajah di Desa Melikan Kelurahan Tempuran, Kecamatan Paron, Kebudayaan Ngawi. Diciptakan untuk menghibur masyarakat setelah membangun sekolah desa itu.

Perkembangan selanjutnya pementasan diadakan untuk  memperingati hari-hari besar nasional dan hari besar Islam oleh penduduk setempat.


Gerak-gerak tarian melambangkan menyembah pada Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan ini menumbuhkan ketentraman dan kedamaian. Digambarkan dalam bentuk berbaris seperti prajurit dan setengah lingkaran.


Sumber : www.budayaindonesia.com

Minggu, 12 September 2021

Batik Ngawi (Identik dengan Gambar Manusia Purba)

 

Batik merupakan salah satu warisan dari kebudayaan asli Indonesia Dewasa ini.

Pemerintah baru-baru ini giat mengkampanyekan memakai pakaian batik sebagai identitas nasional. Salah satu industri rumah tangga yang sedang berkembang di dua Kecamatan yaitu di Desa Munggut Kecamatan Padas dan Desa Banyu Biru kecamatan Ngrambe.

Batik motif Ngawi ini dibuat dengan teknologi batik tulis. Dengan mengusung ciri khas Ngawi, yaitu padi, bambu dan manusia purba (palu purba), kain ini didesain dengan sangat teliti. Efek rentesan pada setiap konturnya membuat proses batik tulis ini cukup lama.

Sumber : www.widinugrohobatik.com

Tari Bedaya Srigati

Tari Bedaya Srigati adalah sebuah tarian yang biasa dipentaskan dalam satu upacara adat di daerah Ngawi yaitu pada saat penggantian langse di obyek spiritual pesanggrahan Srigati. Oleh karena itu maka tari bedaya srigati ini dapat dikatakan sebagai tarian sakral. Tarian ini ditarikan oleh para gadis sedikitnya 10 gadis, dengan busana tradisional yang indah dan gerak yang lembut. Bisa dikatakan hampir mirip dengan tari bedaya yang ada kraton Surakarta maupun Yogyakarta. Tari ini diiringi dengan gamelan dengan gending yang pelan. Pada perkembangannya tari ini sering dipentaskan untuk menyambut tamu yang datang ke Kabupaten Ngawi.


 

Kamis, 09 September 2021

Tari Orek orek Ngawi

 

Tari Orek-Orek merupakan tari yang diciptakan oleh ibu Sri Widajati pada tahun 1981. Tari Orek-Orek diciptakan karena untuk mengangkat kembali kesenian Orek-Orek yang pernah eksis pada tahun 1940-an sampai 1970-an. Pada zaman dahulu itu adanya kesenian Orek-Orek, kemudian dimunculkan keseniaan baru yaitu Tari Orek-Orek pada tahun 1981. Bupati Ngawi memberikan tugas kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi yaitu Seksi Kebudayaan untuk merancang kembali Tari Orek-Orek pada tahun 1981 dengan cara melakukan observasi dan wawancara pada seniman Orek-Orek yaitu Sakijo, Lamin dan Sakimun.

Kesenian Orek-Orek diciptakan oleh Atmo Thole dan Samidin pada tahun 1931. Adanya kesenian Orek-Orek itu dilatarbelakangi oleh pembangunan bendungan dan jembatan pada masa Pemerintahan Hindia Belanda yang tenaga kerjanya berasal dari daerah Ambarawa dan sekitarnya, seperti Yogyakarta, Salatiga, dan Semarang. Pada saat pembangunannya selesai kemudian diresmikan dan diramaikan dengan pementasan Wayang Kulit dan Ketoprak. Tidak lama sejak peresmian tersebut bangunan itu bobol karena dilanda hujan deras dan banjir. Kemudian melakukan kembali pembangunan bendungan dan jembatan. Setelah pembangunan selesai, diadakannya peresmian dengan diiringu musik seadanya seperti lesung yang dijadikan sebagai alat musik dan para pekerja diperkenankan untuk menari dan beberapa pekerja ada menjadi lakon satir yang bercerita tentang kekejaman penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Awalnya, kesenian Orek-Orek muncul di Desa Tapen yang merupakan desa yang terletak di perbatasan antara Madiun dan Magetan.


Sumberr : www.tari-orek-orek